Senin, 13 April 2020

PENCARI TERANG



Mendung bergelayut
Berhari, berbulan, bertahun habiskan waktu
Duduk dibangku, setingkat-setingkat, ditapaki
Bertumpuk sertifikat belum hasilkan apa-apa

Bersama datangnya hujan
Berlari, mencari keteduhan dapatkan rizki
Belum juga temukan yang pasti
Orang seperti apa yang dibutuhkan di negeri ini?

Tembok birokrasi terlalu tinggi
Tuk segera dapatkan legalisasi
Seperti hanya sebuah mimpi
Harapan untuk mengabdi, ikut membangun negeri

Hujanpu telah reda, namun senja berganti malam
Secercah cahaya nampak dari kejauhan
Berlomba lagi menggapai cahaya harapan
Berbondong-bondong, semua…
Berubah seperti laron pencari kerja
Tetap berusaha mencari Nomor Induk pegawainnya
Kepakan sayap, berputar putar
Berputar-putar, berputar putar
Sampai sayapnya lepas satu, sayapnya lepas satu
Berkerumun, bergandengan mengikuti temannya, dan akhirnya pulang.
Ketika Matahari terbit, yang ada tersisa sayap-sayap harapan
Dan segera hilang disapu angin seiring datangnya siang.

KESOMBONGANMU


Dikerumuni teman sejati
Berkolusi tak taat perintah guru
Lalaikan tugas sekolah mengajak teman adu nyali,
untuk jaga gengsi, walau temannya ada yang mati
Merasa kuat, bacok sana bacok sini karena punya dekeng POLISI
Dicoba diperbaiki, tak hasilkan putusan pasti

Orang tua seharusnya menasehati, datang terkesan melindungi
Menuding, Sekolah lah yang salah tak mampu berikan pendidikan yang mumpuni
Lembaga disudutkan, dikerdilkan dirampas oleh ketidak sadaran orang tua
Namun…
Gagahmu tiada lagi
Gagahmu tak tampak lagi
Kekayaanmu, kekuasaanmu tak mampu cetak ijazah
Sesali diri tiada arti, waktu telah berganti
Apapun yang kau miliki
Tak berarti.

ANGKASA





Termangu Menatap Bintang
Diangkasa Bergetar bibir lirih berdoa,
khusyuk yang nampak
diantara kerut tua wajah
Melangkah terbang, semua,
berusaha diraih, semua tinggal harapan, angan yang tinggi terkait
Menggantungkan cita cita dilangit, kaitkan asa penuh harap kelak
Untuk semua mimpi
si buah hati bercucur peluh mengalir darah, deras mengucur
Gontai Lelah, terbalut keriput samar
dengan garis tanganmu tak mampu menatap lama
pada buah hati tersenyum tidur
Cahaya terang bintang jatuh
Tak mungkin terkabulkan doa seperti kebanyakan tahayul
“Ibumu Akan perjuangkanmu, Tanpa Bapakmu”
Muh. Herdi Sigit Iswanto
082143660674

ANGKASA




Termangu Menatap Bintang
Diangkasa Bergetar bibir lirih berdoa,
khusyuk yang nampak
diantara kerut tua wajah
Melangkah terbang, semua,
berusaha diraih, semua tinggal harapan, angan yang tinggi terkait
Menggantungkan cita cita dilangit, kaitkan asa penuh harap kelak
Untuk semua mimpi
si buah hati bercucur peluh mengalir darah, deras mengucur
Gontai Lelah, terbalut keriput samar
dengan garis tanganmu tak mampu menatap lama
pada buah hati tersenyum tidur
Cahaya terang bintang jatuh
Tak mungkin terkabulkan doa seperti kebanyakan tahayul
“Ibumu Akan perjuangkanmu, Tanpa Bapakmu”

Sabtu, 14 Maret 2020

BULAN


Meyebutmu Dewi malam
Tak tampak di kala siang
Keindahanmu ternyata semu
Parasmu hanya pancarkan bias
Wajahmu indah ketika menatapmu dari jauh

Pahit tuk mendapatkanmu
Menggapaimu terlalu sulit
Menurunkanmu tentu tak mungkin
Kau hanya mengikuti langkahku
Kau hanya bayangan keindahan kerinduan

Dewi malam,
Bayangan
Keindahan
Semu

Masihkah kau rindukan Bulan???

Sabtu, 15 Februari 2020

Alur Hidup


Alur Hidup


Lahir ke dunia tentunya kita bernyawa,
Teriak lantang tak gentar, memecah ketegangan disekitar,
Mungil, walaupun berlumur darah, semua mengatakan suci,
Bawa apa?
Bisa apa?
Jabatannya BAYI.!
Bertumbuh....
Ingin jadi presiden!
Ingin jadi mentri!
Pengusaha!
Guru!
Kyai!
Ingin jadi gajah... Ingin jadi tirai, lilin.
Kesemuannya mempunyai harapan

Diiring waktu dan kala,  dikata remaja, dewasa, dan kembali bayi lagi?
Tak ada lagi.
Amal baik  miliknya.
Kejahatan, dosanya.
Itu akan dibawa tak kala tutup usia.
Apa kesombonganmu ketika presiden jabatanmu
Apa kesombonganmu ketika mentri jabatanmu
Apa kesombonganmu ketika pengusaha kerjamu
Apa kesombonganmu ketika guru profesimu
Apa kesombonganmu ketika kyai sebutanmu
Apa kesombonganmu ketika kau berubah menjadi hewan gajah terkuat.
Apa kesombonganmu ketika kau berubah menjafi tirai menghalang silau cahaya dunia
Apa kesombonganmu ketika menjelma seperti lilin terangi gelap kehidupan disekitarmu.
Kesemuannya kau pertanggung jawabkan
Tak ada kesombonganmu lagi
ak kala tutup usia.

Kacang Lupa Kulit



Perih  
Ada luka menggores hati
Berdarah perjuangkan kehidupan
Gantikan bapak dalam asuhan kakak

Perih
Luka tertutupi
Terobati adinda dapatkan pasangannya
Luka telapak kaki telah terhenti

Perih
Luka menganga
Mencari obat penawar sembuhkan luka hati
Adinda tersakiti nahkoda tak tahu arah lagi


Tak ada perih lagi,  tak ada luka lagi
Tapi kini Kakanda kau hianati
Lukamu telah sembuh, adinda bisa berlari
Kau tinggalkan kanan kiri
Tak pedulikan dirimu siapa lagi

Lupa kepedihan dulu, sewaktu kau mengadu
Tak henti kakanda berdoa,
Semoga tak jadi kacang lupa kulitnya.